REI Sultra ” Dampak Pandemi Penjualan Property di Sultra Merosot”

reisultra.com, Kendari – Dampak Pandemi virus corona [Covid-19) di Sulawesi Tenggara (Sultra) juga sangat dirasakan oleh sektor properti. Penjualan pada semua segmen menurun sangat drastis selama kuartal I 2020. Dibandingkan dengan kuartal I 2019, penurunannya mencapai 40 persen. Informasi itu diungkapkan Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Sultra, Iwan Setiawan.

“Sudah pasti terjadi penurunan yang drastis terutama rumah komersiall Sejak 2019, penjualan memang sudah menurun. Namun dengan adanya pandemi jadi semakin anjlok. Dibandingkan kuartal I 2020, penurunannya sekitar 30 persen sampai 40 persen,” ungkap Iwan, akhir pekan lalu. Di samping perumahan komersial,lanjut Iwan, penurunan juga terjadi pada ini lain seperti perhotelan, mall, perkantoran, hingga perumahan subsidi. Kendati demikian di antara semua segmen yang terdampak, perumahan subsidilah yang paling menopang sektor properti di Sultra saat ini‘ Procluk residensial tersebut masih berjalan meskipun tergolonglambat.

“Hotel paling parah. Kira suclah koodinasi dengan PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia)‘ Hanya perumahan skala kecil atau bersubsidi yang menopang saat ini Penurunannya lebih rendah dibandingkan yang lain, hanya sekitar 20 persen,” imbuhnya. Hanya saja, kata dia, saat ini perbankan

lebih ketat dalam menyalurkan kredit pemilikan rakyat (KPR). Perbankan hanya akan menyalurkan KPR kepada Aparatur Sipil Negara (ASN). Perbankan menolak untuk menyalurkan kredit bagi end user (konsumen akhir) yang berstatus pegawai kontrak. Kebijakan tersebut diperkirakan akan berdampak terhadap tingkat penjualan perumahan di Sultra. “Tahun lalu penyaluran masih bisa kepada karyawan swasta, berbeda dengan sekarang yang hanya bisa disalurkan kepada ASN, anggota Polri, dan TN I,”tutur Ketua REI Sultra dua periode ini.

Sulitnya proses transaksi terutama untuk segmen Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), menurut lwan, sangat memberatkan para pengembang, Sebab, di tengah merosotnya nilai penjualan, para pengembang tetap harus membayar cicilan kepada bank‘ Kebijakan rekstrukturisasi kredit pun realisasinya tidak sesuai harapan REI.“Restrukturisasi dari perbankan tidak seperti yang diharapkan. Salah satu model restrukturisasi yaitu penundaan pembayaran kredit. Masalahnya, yang ditunda hanya pembayaran pokok sedangkan bunga tetap jalan. Di satu sisi kita punya perumahan tidak bisa dijual, disisi lain, ada kewajiban yang harus dibayar ke bank,” keluhnya.

Saat ini, pihaknya telah mengurangi produksi perumahan. Mereka hanya menjual rumah subsidi yang telah diproduksi sejak tahun 2019. Bahkan, kata Iwan, target penjualan yang sebelumnya 3.000 unit, besar kemungkinannya akan terkoreksi cukup dalam. “Sampai akhir tahun ini mungkin penjualan hanya akan mencapai1.500 unit, paling optimis 2.000 unit. Kita belum tau kapan pandemi ini akan berakhir, jadi produksi juga dibatasi,” tutup Iwan.

 

 

sumber : Kendari Pos

Foto : Istimewa