REI : Jadi Lokomotif Perekonomian Tapi Insentif Yang Diberikan Sangat Minim Untuk Sektor Properti

reisultra.com, Kendari – Berbagai kalangan kembali menyuarakan pentingnya sektor properti untuk mendorong perekonomian nasional yang terpuruk karena pandemi Covid-19. Dengan sektor ikutan di belakang industri properti atau multiplayer effect yang bisa digerakkan mencapai 170-an industri lain, properti bisa menyerap tenaga kerja langsung maupun tak langsung mencapai 30 jutaan tenaga kerja.

Menurut Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Totok Lusida, pemerintah sendiri kadang menganggap properti merupakan sektor yang kurang penting karena selalu dilihat dari sumbangan sektor ini terhadap PDB yang baru 2,3 persen. Padahal porsi ini baru dari sisi pajaknya saja sementara properti melibatkan banyak faktor dan terutama industri ikutannya yang sangat besar.

“Bayangkan dari satu tower apartemen, itu harus beli ribuan tempat tidur, furnitur, perangkat elektronik, bisa dibayangkan industri lain yang bisa ikut bergerak dari properti ini. Sektor ini membutuhkan banyak relaksasi supaya bisa bergerak dan mendorong perekonomian khususnya saat pandemi ini. Akan banyak industri baru yang tumbuh dan properti ini menggerakan perekonomian secara nyata,” ujarnya dalam diskusi virtual bertajuk 75 Tahun Indonesia Merdeka, Properti Penggerak Perekonomian Nasional.

Sejumlah sub sektor properti banyak yang terpukul saat pandemi Covid-19 seperti sektor perhotelan yang turun mencapai 90 persen, perkantoran 74,6 persen, hingga penjuala produk residensial yang turun 50-80 persen. REI mengusulkan penurunan tarif PPh Final sewa tanah dan bangunan dari 10 persen menjadi 5 persen, PPh Final jual beli tanah dan bangunan dari 2,5 persen jadi 1 persen, PPN 10 persen jadi 5 persen, dan relaksasi lainnya untuk jangka waktu 12-18 bulan ini.

“Kalau mau menjadikan sektor ini sebagai lokomotif ekonomi pemerintah harus serius dengan meningkatkan anggaran untuk sektor perumahan. Pasalnya penyerapan anggaran pada industri ini bisa menghasilkan ekonomi berkali lipat dan dampaknya bisa dirasakan langsung dari penerimaan pajak maupun terhadap perekonomian masyarakat bawah,” imbuhnya.

Sementara itu Direktur Ekseskutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menyebut, perlu ada penyelamatan khususnya bagi pengembang kecil dari kesulitan cash flow saat situasi pandemi ini. Ali sangat mengkhawatirkan berbagai insentif yang diberikan pemerintah arahnya kurang tepat dan dari sisi waktu juga terlalu lama.

“Jangan sampai insentif keluar saat sudah banyak perusahaan yang terlanjur kolaps. Perlu ada insentif khusus seperti keringanan pajak-pajak khususnya bagi kalangan investor yang selama ini wait and see. Selain itu perlu juga relaksasi pembelian untuk konsumen sehingga pasar bisa lebih bergairah,” katanya.

 

sumber : rumah.com

foto : istimewa