Penyaluran KPR FLPP Rendah, Kuota Bank Diambil 20 Persen

reisultra.com, Kendari – Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merupakan lembaga yang menyalurkan KPR subsidi fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) kepada perbankan. Dalam menangani penyaluran ini, PPDPP melakukan evaluasi kepada bank penyalur terkait kinerja penyaluran FLPP untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Tahun 2020 ini PPDPP telah menggandeng 42 bank pelaksana yang menyalurkan FLPP yang terdiri dari 10 bank nasional dan 32 bank pembangunan daerah (BPD). Dalam menyalurkan dana FLPP ini telah disepakati bersama setiap kuartal akan dilakukan evaluasi terhadap kinerja bank pelaksana yang menyalurkan FLPP.

Menurut Direktur Utama PPDPP Arief Sabaruddin, terkait evaluasi untuk seluruh bank penyalur, bank yang penyalurannya tidak sesuai target maka akan dialihkan kuota FLPP-nya kepada bank yang penyalurannya lebih baik. Hal ini telah menjadi kesepakatan dan tertulis dalam perjanjian kerja sama antara PPDPP dan perbankan.

“Jadi bank yang capaiannya 80 persen itu high level, 50-80 persen middle level, sementara yang di bawah 50 persen itu low level. Hasil evaluasi untuk periode Januari-Juni 2020, ada 13 bank pelaksana yang terdiri dari tiga bank nasional dan 10 BPD yang high level, 3 bank nasional dan 12 BPD middle level, dan 4 bank nasonal dan 10 BPD low level,” ujarnya.

Terkait penilaian ini, Direktur Layanan PPDPP Christ Robert Marbun menambahkan, bobot penilaian yang dilakukan untuk 42 bank pelaksana ini memenuhi empat indikator yang terkait dengan indikator keuangan dengan porsi 40 persen, indikator capaian bank 30 persen, indikator operasional 25 persen, dan implementasi host to host 5 persen.

“Penilaian yang dilakukan juga mempertimbangkan kepatuhan bank pelaksana terhadap rekonsiliasi data, jadwal angsuran, penyaluran dana, dan dukungan terhadap pemantauan dan evaluasi lapangan. Keaktifan bank pelaksana dalam menindaklanjuti setiap peningkatan teknnologi yang diterapkan oleh PPDPP menjadi hal yang dinilai juga,” katanya.

Akhirnya pada penilaian dan evaluasi untuk triwulan kedua ini, bank pelaksana dengan realisasi di bawah 50 persen akan mengalami pengurangan kuota sebesar 20 persen. Penambahan kembali kuota dimungkinkan bila bank tersebut bisa menyalurkan dana FLPP-nya di atas 80 persen.

Arief juga mengajak pihak bank untuk ikut memiliki perhatian terhadap kualitas rumah yang dibiayai dengan FLPP ini dan jangan hanya fokus pada kuantitas seberapa banyak yang telah disalurkan. Harus ada pandangan bersama kalau rumah subsidi yang dibiayai dengan anggaran pemerintah melalui program FLPP ini haruslah rumah yang layak dan berkualitas.

“Jadi bank harus ikut memerhatikan terkait kualitas rumah yang dibiayai menggunakan program ini. Jangan hanya meminta tambahan kuota tapi harus dipastikan juga permintaannya sudah ada sehingga sisi demand ini bisa dipenuhi dan pastikan pengembang yang membangun harus menyediakan rumah yang berkualitas dan siap huni,” tandasnya.

Sebagai informasi tambahan, hingga periode akhir Juli ini dana FLPP yang sudah disalurkan oleh PPDPP telah mencapai 77.401 unit rumah. Capaian sebesar ini merupakan porsi  75,51 persen dari anggaran tahun ini sebesar Rp7,85 triliun. Total PPDPP telah menyalurkan sebanyak 733.003 unit rumah atau senilai Rp52,21 triliun sejak tahun 2010 lalu.

Sementara data dari dashboard management control PPDPP hingga akhir pekan lalu, sudah masuk sebanyak hampir 200 ribu calon debitur FLPP yang mengakses aplikasi Sistem Informasi KPR Bersubsidi (SiKasep). Aplikasi ini merupakan pintu gerbang bagi calon debitur yang ingin mengakses pembiayaan FLPP. Hingga saat ini sudah ada 82.407 calon debitur yang dinyatakan lolos subsidi checking, 12.055 dalam proses verifikasi bank, dan 734 calon debitur sudah dalam proses pengajuann dana FLPP-nya.

 

 

sumber : rumah.com

foto : dpdreisultra/perum.ammar regensy