Strategi PUPR Ubah Rumah Tidak Layak Menjadi Homestay

reisultra.com, Kendari – Berbagai program untuk meningkatkan ekonomi yang terpukul akibat pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) terus dilakukaan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kali ini Kementerian PUPR mendorong program sarana hunian pariwisata (Sarhunta) di sejumlah kawasann strategis pariwisata (KSPN) untuk mengembangkan rumah tidak layak huni menjadi penginapan atau homestay bagi wisatawan.

Sarhunta sendiri merupakan bagian dari program bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS) atau program bedah rumah. Kementerian PUPR akan menggelontorkan anggaran untuk program bedah rumah bagi 2.750 unit rumah tidak layak huni supaya diubah menjadi homestay yang menarik.

“Kami tengah berupaya untuk mengubah wajah rumah-rumah di daerah KSPN supaya bisa menarik minat wisatawan asing maupun domestik melalui program Sarhunta ini. Jadi program bedah rumah bisa dilaksanakan sekaligus lebih menjamin keberlangsungan perekonomian masyarakat dengan menjadikannya homestay,” ujar Khalawi Abdul Hamid, Dirjen Perumahan Kementeriann PUPR.

Pengembangan KSPN ini untuk memaksimalkan dan menggerakan perekonomian masyarakat khususnya pada masa pandemi saat ini. Nantinya pembangunan rumah swadaya ini bukan berupa spot-spot tersendiri tapi harus berkelompok dan bisa mengubah wajah gerbang masuk KSPN di Indonesia. Targetnya pembangunan homestay ini bisa selesai pada tahun ini dengan mengikuti protokol kesehatan.

Pembangunan homestay melalui program bedah rumah ini juga dilaksanakan untuk mengantisipasi meningkatkan wisatawan ke lokasi KSPN dan mendukung tatanan normal baru (new normal). Beberapa lokasi KSPN yang akan menjadi tujuan pengembangan program ini antara lain Borobudur, Danau Toba, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.

Nantinya program Sarhunta ini bisa dimanfaatkan sebagian untuk wisatawan maupun tempat usaha pendukung pariwisata berbasis pada pemberdayaan masyarakat. Pembangunannya akan dibagi menjadi dua, meningkatkan kualitas rumah tidak layak huni menjadi layak huni sebagai Sarhunta dan peningkatan rumah tidak layak huni di sepanjang koridor menuju lokasi pariwisata.

Jumlah bantuan yang akan disalurkan untuk program peningkatan kualitas mencapai Rp90 juta. Sementara untuk program kedua yaitu pembangunan rumah baru, pembangunan kembali ataupun perbaikan rumah tradisional di kawasan pariwisata dengan jumlah maksimal yang bisa disalurkan mencapai Rp180 juta.

Akan digandeng para tenaga ahli seperti arsitek untuk memaksimalkan hasil pembangunan di seluruh kawasan. Masyarakat hingga pemerintah setempat dan beberapa ahli dari perguruan tinggi seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Udayana, dan lainnya juga akan dilibatkan untuk melakukan pendataan dan monitoring pelaksanaan program ini.

Desain bangunan juga harus mencerminkan adat daerah yang bersangkutan atau bangunan harus memiliki karakter adat dengan sentuhan modifikasi supaya lebih modern. Penerapan keraifan lokal harus tetap dipertahankan sehingga para wisatawan juga lebih tertarik untuk menetap di homestay ini.

“Total rumah yang telah menjadi target program Sarhunta di KSPN ini mencapai ribuan dengan total anggaran lebih dari Rp429 miliar. Perinciannya, di Danau Toba sebanyak 1.000 unit, Borobudur 350 unit, Mandalika 500 unit, Labuan Bajo 600 unit, dan Likupang 300 unit. Pembangunannya tidak hanya fokus pada bangunan tapi arsitek lokal hingga sarana pendukung lainnya seperti toilet sehingga kenyamanan yang dirasakan bisa maksimal,” beber Khalawi.

 

 

sumber : rumah.com

foto : istimewa