Perbankan Kian Selektif, Pengaruhi KPR Rumah Bersubsidi

reisultra.com, Kendari – Meski demikian, realisasi KPR untuk rumah subsidi dan nonsubsidi ini diprediksikan akan melambat di kuartal II/2020 menyusul dampak dari pandemi COVID-19.

Data Bank Indonesia mencatat bahwa persentase jumlah konsumen yang menggunakan fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) di subsektor properti residensial pada kuartal I/2020 sebesar 74,73 persen.

Angka tersebut dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai 71,88 persen. Adapun, 17,15 persen konsumen melakukan pembelian rumah dengan tunai bertahap dan sisanya sebesar 8,06 persen dengan tunai.

Namun, pertumbuhan KPR dan KPA pada tiga bulan pertama di tahun ini mengalami perlambatan menjadi 0,51 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya sebesar 1,01 persen.

Sementara itu, pencairan rumah subsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada kuartal pertama sebesar Rp2,822 triliun atau tumbuh secara tahunan sebesar 5,94 persen dan Iebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang tercatat mengalami kontraksi.

Kendati demikian, ketika memasuki kuartal kedua ini penyaluran KPR rumah subsidi dipastikan terhambat karena beberapa perbankan kian selektifnya dalam penyaluran dana KPR. Inilah mengapa saat ini penyaluran KPR diprediksikan akan mengalami keterlambatan.

Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Yoyo Sugeng mengatakan bahwa jalan tengah untuk mempercepat penyaluran KPR sebetulnya ada di tangan perbankan agar tak sulit dalam merealisasikan.

Ia juga menambahkan bahwa sejumlah perbankan mengakui bahwa penyaluran KPR lebih selektif karena sebagai bentuk kehati-hatian bank untuk menghindari risiko kredit macet ke depan di tengah dampak virus Corona. 

Yoyo menyanyangkan langkah perbankan tersebut lantaran permintaan rumah masih tetap ada, akan tetapi konsumen tersebut terbentur dari persetujuan bank untuk memberikan KPR. Masalahnya, satu-satunya pemasukan pengembang adalah dari penjualan supaya arus kas tetap berputar.

Perbankan saat ini lebih memilih penyaluran KPR ke pegawai BUMN maupun aparatur sipil negara (ASN) yang berpenghasilan tetap. 

“Padahal, segmen pasar BUMN dan ASN ini tak masuk ke segmen subsidi, masuknya ke segmen kelas menengah,” tuturnya.

Pandangan tersebut dinilai jika realisasi dari penyaluran KPR tersebut memiliki kemungkinan yang turun, mengingat pemerintah saat ini sudah memberikan stimulur Rp1,5 triliun dari yang diharapkan dapat menambah kuota unit rumah sebesar 175.000 unit.

Sementara itu, Yoyo menambahkan bahwa kendala lain yang dihadapi para pengembang hunian bersubsidi di Indonesia saat ini adalah kesulitan rekstrukturisasi kredit perbankan dan juga pemasaran terhadap para konsumen ditengah pandemi Covid-19. 

 

sumber: rumah.com

Foto : Istimewa