Bank BTNKembali Disuntik Rp5 Triliun Untuk Perbesar Pembiayaan Perumahan

reisultra.com, Kendari – Pemerintah terus memperkuat pendanaan untuk pemulihan perekonomian melalui penyaluran dana penempatan pemerintah ke berbagai sektor penting. Salah satunya, pemerintah kembali menyetorkan dana penempatan untuk program pemulihan ekonomi nasional (PEN) ke Bank BTN yang memiliki fokus pada penyaluran pembiayaan perumahan khususnya segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Bank BTN kembali mendapatkan tambahan penempatan dana pemerintah sebesar Rp5 triliun. Hal ini membuat realisasi penempatan uang negara yang diterima Bank BTN dari penempatan semula menjadi sebesar Rp10 triliun sehingga dana ini bisa disalurkan untuk pembiayaan perumahan yang lebih besar lagi.

Menurut Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury, Bank BTN berkomitmen untuk bisa memenuhi tarhet dari program PEN dengan menyalurkan pembiayaan hingga tiga kali lipat atau sebesar Rp30 triliun dari dana yang ditempatkan pemerintah di Bank BTN.

“Jadi dari dana penempatan pemerintah sebesar Rp10 triliun yang akan kami sasar untuk program PEN menjadi Rp30 triliun. Porsi terbesar dari penyaluran pembiayaan ini tentunya sektor perumahan sesuai dengan core business kami sehingga ekspansi kredit ini bisa memberikan dampak perekonomian yang lebih besar lagi,” ujarnya.

Bank BTN juga akan memaksimalkan ekspansi kredit ini dengan tetap memerhatikan pengelolaan risiko yang baik di tengah situasi ketidakpastian perekonomian khususnya berbagai dampak yang ditimbulkan akibat pandemi  Covid-19. Pahala optimistis, dengan menyalurkan pembiayaan perumahan, akan menyasar pula pada lebih dari 170 industri yang terkait dengan sektor properti sehingga bisa menyerap tenaga kerja yang besar.

Terlebih sektor properti bisa dikatakan seluruh bahan baku hingga tenaga kerja yang digunakan seluruhnya lokal sehingga sektor ini sangat diharapkan bisa memperkuat perekonomian nasional yang terkendala karena Covid-19. Hampir 100 persen material untuk pelaksanaan pembangunan proyek properti merupakan buatan lokal sehingga sektor ini sangat strategis untuk mendongkrak perekonomian.

Pasar yang membutuhkan produk perumahan di Indonesia juga sangat besar. Hal ini ditandai dengan angka defisit (backlog) perumahan yang masih berada di kisaran sebesar 11,4 juta ditambah dengan rumah tangga baru yang mencapai 800 ribu-1 juta setiap tahunnya. Fakta ini membuka peluang ekspansi bisnis di sektor properti yang sangat luas.

“Tingginya backlog dan terus bertambahnya kebutuhan hunian setiap tahun dari rumah tangga baru ini menunjukan besarnya ruang untuk penyaluran pembiayaan perumahan (KPR) yang bisa kami lakukan. Ini menunjukan prospek yang baik karena permintaan yang masih sangat tinggi,” pungkas Pahala.

 

 

 

sumber : rumah.com

foto : istimewa